Penelitian ini membahas pemikiran Bint al-Syāṭi’ dan Muḥammad Aḥmad Khalafallāh dalam pengembangan tafsir sastrawi Al-Qur’an serta relevansinya dalam pembelajaran Al-Qur’an. Kajian ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan pembelajaran Al-Qur’an yang masih dominan berorientasi pada aspek teknis, seperti tajwid dan hafalan, sehingga kurang memberi ruang bagi apresiasi estetika, linguistik, dan makna edukatif Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi tokoh melalui analisis deskriptif, komparatif, kritis, dan inferensial terhadap karya-karya utama kedua tokoh tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bint al-Syāṭi’ menekankan ketepatan diksi, prinsip anti-sinonimitas, serta kesatuan makna internal Al-Qur’an melalui analisis linguistik yang ketat. Sementara itu, Khalafallāh menyoroti fungsi kisah Al-Qur’an sebagai media retoris yang mengandung pesan moral, psikologis, dan pedagogis, bukan semata-mata laporan historis. Kedua pemikiran tersebut memiliki titik temu dalam memandang Al-Qur’an sebagai teks sastra ilahiah yang menuntut pembacaan holistik. Integrasi keduanya menawarkan model pembelajaran Al-Qur’an yang lebih komprehensif, yaitu menggabungkan analisis linguistik mikro dengan analisis naratif makro agar peserta didik dapat memahami keindahan bahasa sekaligus kedalaman pesan hidayah Al-Qur’an.
Copyrights © 2026