Perkembangan orientasi hidup masyarakat modern yang cenderung materialistik menempatkan kekayaan sebagai indikator utama keberhasilan, sehingga menggeser posisi ilmu sebagai nilai fundamental dalam kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dimensi aksiologis dalam ungkapan “anak cucuku tidak saya doakan kaya harta, tetapi saya doakan kaya ilmu” dalam perspektif filsafat ilmu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research) yang bersifat konseptual, melalui teknik analisis isi terhadap berbagai literatur yang relevan dengan filsafat ilmu, pendidikan, dan kearifan lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ungkapan tersebut secara dominan merepresentasikan dimensi aksiologi, dengan menempatkan ilmu sebagai nilai intrinsik dan instrumental yang lebih utama dibandingkan harta. Ilmu dipahami sebagai dasar pembentukan kualitas manusia yang mencakup aspek intelektual, moral, dan sosial, serta menjadi fondasi dalam memperoleh dan mengelola kesejahteraan. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya kajian filsafat ilmu, khususnya pada aspek aksiologi, dengan mengintegrasikan kearifan lokal sebagai sumber nilai, serta memberikan implikasi bagi pengembangan paradigma pendidikan yang lebih berorientasi pada pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan.
Copyrights © 2026