Pendapatan petani garam di Indonesia, khususnya di Dusun Kapasan, Desa Randutatah, Kecamatan Paiton, masih menghadapi berbagai permasalahan kompleks akibat penggunaan metode produksi tradisional. Penelitian ini bertujuan menganalisis cara kerja teknologi geomembran dalam meningkatkan pendapatan usahatani garam, dampaknya terhadap kesejahteraan petani, serta mengidentifikasi kendala dalam penerapannya. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknologi geomembran mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi garam secara signifikan, dengan kadar NaCl mencapai 97-99% dan frekuensi panen meningkat hingga 5-6 kali per tahun. Pendapatan petani meningkat dari rata-rata Rp 1,9 juta menjadi Rp 3,4 juta per bulan atau sekitar 60% dibanding metode tradisional. Namun, peningkatan ini masih terhambat oleh tingginya biaya awal pemasangan geomembran, fluktuasi harga garam, keterbatasan akses modal, dan ketergantungan pada tengkulak. Temuan ini menegaskan pentingnya dukungan pemerintah melalui subsidi teknologi, penguatan kelembagaan kelompok tani, dan stabilisasi harga garam rakyat.
Copyrights © 2026