Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam dijaga kemurniannya oleh Allah SWT, sementara manusia berikhtiar menjaganya melalui praktik tahfidz Al-Qur’an. Dalam pendidikan tahfidz, permasalahan yang sering muncul adalah ketidakseimbangan antara peningkatan jumlah hafalan dan kekuatan hafalan santri sehingga hafalan mudah terlupakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan metode takrir dan imtihan dalam penguatan hafalan Al-Qur’an santri, mengkaji dampaknya terhadap kuantitas hafalan, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat penerapannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologis melalui penelitian lapangan di Pondok Tahfidzul Qur’an Nuruts-Tsamarot Panyabungan pada tahun ajaran 2024/2025. Subjek penelitian meliputi pimpinan pondok, guru tahfidz, dan santri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode takrir dan imtihan dilakukan secara sistematis melalui setoran hafalan terstruktur, tasmi’ harian, serta pengawasan guru secara intensif. Metode ini berpengaruh positif terhadap peningkatan kuantitas hafalan santri, dari rata-rata 12,5 juz menjadi 19,9 juz dalam satu tahun. Faktor pendukung meliputi koordinasi guru, motivasi santri, dukungan orang tua, dan fasilitas yang memadai, sedangkan faktor penghambat meliputi perbedaan kemampuan santri, keterbatasan tajwid, serta kecenderungan lupa terhadap ayat yang serupa.
Copyrights © 2026