Pendidikan inklusif menempatkan guru reguler sebagai garda terdepan pendidikan, namun fakta lapangan menunjukkan adanya kesenjangan kompetensi yang signifikan. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi seberapa besar kesenjangan antara tugas yang diberikan kepada guru dengan kemampuan nyata di lapangan, sekaligus merumuskan strategi adaptasi bagi guru reguler dalam menanganinya. Metode yang digunakan berupa studi literatur sistematis terhadap berbagai artikel ilmiah relevan dalam rentang tahun 2020–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kendala serius yang dihadapi guru reguler dikarenakan tidak adanya latar belakang Pendidikan Luar Biasa. Keterbatasan waktu, minimnya fasilitas di sekolah, serta belum tersedianya Guru Pendamping Khusus menjadi tantangan berat yang memicu risiko kelelahan kerja (burnout) pada pendidik. Meskipun pengembangan diri secara mandiri telah dilakukan, hal tersebut belum mampu meningkatkan kompetensi teknis guru secara signifikan dalam mengelola keberagaman di kelas. Kajian ini menyimpulkan bahwa dukungan manajerial melalui Standar Operasional Prosedur yang baku serta penguatan kompetensi melalui pelatihan berkelanjutan sangat diperlukan guna mengatasi kesenjangan profesionalisme tersebut. Sinergi antara kebijakan sekolah yang suportif dan inovasi pedagogik menjadi kunci keberhasilan transformasi pendidikan inklusif yang bermartabat.
Copyrights © 2026