Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) secara teoretis berfungsi sebagai perekat integrasi nasional, namun di tengah meningkatnya politik identitas, terdapat kekhawatiran bahwa PKn justru bertransformasi menjadi instrumen yang memperlebar jarak sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana interpretasi nilai-nilai kewarganegaraan yang bersinggungan dengan sentimen religius dapat memicu polarisasi di masyarakat multikultural. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan analisis wacana kritis terhadap materi ajar serta literatur kebijakan pendidikan terkini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infiltrasi tafsir keagamaan yang eksklusif ke dalam kurikulum PKn menciptakan dikotomi antara identitas kebangsaan dan identitas religius, yang pada gilirannya mengonsolidasi kelompok-kelompok sosial ke dalam kutub yang saling berhadapan. Penggunaan narasi "warga negara ideal" yang hanya berbasis pada satu perspektif dogma tertentu terbukti melemahkan kohesi sosial siswa di lingkungan pendidikan. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa tanpa adanya redesain kurikulum yang menekankan pada literasi lintas agama dan netralitas pendidik, PKn berisiko menjadi alat segregasi ideologis. Diperlukan penguatan nilai-nilai kewargaan yang inklusif untuk memitigasi dampak polarisasi sosial agar tujuan awal integrasi nasional tetap terjaga.
Copyrights © 2026