Penelitian ini mengkaji Syair Rindu Rasulullah sebagai praktik linguistik dan performatif yang memperkuat identitas komunal dan resistensi budaya dalam komunitas Majelis Ar Ridwan dan Pesantren Anwarut Taufiq. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap struktur linguistik, dinamika performansi, dan fungsi sosial syair dalam konteks ritual sholawatan kontemporer. Dengan menerapkan pendekatan etnografis-performatif, analisis linguistik terapan, dan observasi partisipatif terhadap satu sesi pertunjukan berdurasi 25 menit, penelitian ini memetakan pola repetisi, imperatif, pronomina, vokatif, dan metafora sebagai perangkat utama dalam membangun kohesi makna dan ritme ritual. Temuan menunjukkan bahwa syair ini terstruktur melalui arsitektur emosional dengan tiga puncak yang dihasilkan oleh imperatif performatif, jeda musikal, dan intensifikasi vokatif. Sementara itu, segmen repetitif seperti "Nabi Muhammad, Engkau…" dan "Habibi Muhammad…" menciptakan sinkronisasi afektif di antara para jamaah. Dari perspektif sosial, syair ini berfungsi sebagai medium pembentukan identitas kolektif sekaligus strategi resistensi simbolik terhadap wacana yang mempersoalkan praktik sholawatan. Syair ini menegaskan relevansi spiritual, terapeutik, dan estetis dari tradisi tersebut melalui bahasa figuratif dan tindak vokal yang terkoordinasi. Penelitian ini mengonfirmasi bahwa praktik sholawatan bukan sekadar warisan budaya, melainkan mekanisme pembentukan kesalehan komunal yang cair, musikal, dan berlapis secara simbolik.
Copyrights © 2026