Penelitian ini mengeksplorasi mengenai pengalaman anak dalam menghadapi pola komunikasi disfungsional di keluarga broken home. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami makna pengalaman hidup subjek secara mendalam. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan dua remaja berusia 19 hingga 21 tahun yang mengalami pola komunikasi disfungsional dalam keluarga broken home. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi yang disfungsional, seperti kritik tajam, komunikasi pasif-agresif, dan kurangnya dukungan emosional, berdampak negatif pada perkembangan emosional, psikologis, dan sosial anak. Anak-anak sering merasa terisolasi, tertekan, dan mencari pelarian dalam perilaku merusak. Pentingnya pola komunikasi yang sehat dalam keluarga dan dukungan dari lingkungan sosial serta intervensi yang tepat untuk membantu anak-anak menghadapi tantangan ini. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi penting bagi keluarga, praktisi, dan peneliti dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan anak-anak di keluarga broken home.
Copyrights © 2026