Penelitian ini berfokus mengidentifikasi jenis serta fungsi inferensi pragmatik yang muncul dalam acara humor roasting tokoh politik pada video “Kiky Saputri dan Ate Roasting AMIN”, yang disiarkan oleh Metro TV pada 5 Januari 2024. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode simak bebas libat cakap, penelitian menganalisis 21 tuturan melalui kerangka inferensi Yule (1996) dan prinsip kerja sama Grice (1975). Hasilnya mengungkap dua tipe inferensi yang dominan: (1) inferensi umum, terdiri dari 11 tuturan yang bersandar pada kritik sosial‑politik dan dapat dipahami tanpa konteks khusus, contohnya sindiran tentang korupsi, ketimpangan sosial, dan kebebasan berpendapat; serta (2) inferensi khusus, mencakup 10 tuturan yang memerlukan pengetahuan konteks tertentu untuk ditafsirkan, seperti sindiran spesifik terhadap tokoh dan institusi politik. Fungsi utama inferensi dalam video tersebut meliputi penciptaan humor politis, penyampaian kritik implisit yang aman secara sosial, pembentukan opini publik, serta penguatan wacana deliberatif. Temuan ini menegaskan bahwa humor roasting berperan sebagai ruang diskursif alternatif dalam komunikasi politik digital. Studi ini menunjukkan bahwa inferensi tidak hanya krusial untuk mengartikan sebuah ucapan, melainkan juga menjadi metode yang efektif dalam humor politik untuk mengungkapkan kritik, memengaruhi pendapat publik, serta meningkatkan kesadaran politik masyarakat. Oleh karena itu, humor politik di ranah digital merupakan bentuk komunikasi politik yang kompleks dengan makna implisit yang dapat ditelaah lewat pendekatan pragmatik dan analisis inferensi. Hasil ini menegaskan bahwa humor roasting berfungsi sebagai ruang alternatif dalam komunikasi politik digital.
Copyrights © 2026