Banyak gembala dan pemimpin gereja masa kini masih belum menunjukkan integritas dalam mempersiapkan generasi penerus yang mampu memimpin lembaga gereja dengan hati yang tulus dan sesuai dengan panggilan Allah. Dalam praktiknya, proses suksesi kepemimpinan sering kali lebih mengutamakan anggota keluarga atau kerabat dekat dibandingkan individu yang memiliki kedewasaan rohani, kapasitas kepemimpinan, dan panggilan yang jelas untuk menggembalakan umat Tuhan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman teologis mengenai gaya kepemimpinan Musa serta menawarkan prinsip-prinsip praktis yang dapat diterapkan dalam kepemimpinan gerejawi masa kini. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka melalui analisis teks Alkitab, buku-buku teologi, artikel jurnal ilmiah, dan referensi relevan lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan Musa memiliki dua dimensi utama, yaitu dimensi ilahi dan dimensi insani. Dimensi ilahi menekankan kepekaan seorang pemimpin terhadap kehendak Allah dalam memilih dan menetapkan pemimpin berikutnya, sedangkan dimensi insani diwujudkan melalui proses pemuridan, ketulusan, kelemahlembutan, sikap tidak mementingkan diri sendiri, dan integritas dalam membina calon pemimpin. Kontribusi utama artikel ini adalah menunjukkan bahwa suksesi kepemimpinan gereja yang sehat harus didasarkan pada panggilan Tuhan dan karakter rohani, bukan pada hubungan kekerabatan, kepentingan pribadi, atau pertimbangan material. Dengan demikian, gaya kepemimpinan Musa memberikan model teologis dan praktis bagi para pemimpin gereja untuk membangun regenerasi kepemimpinan yang adil, berintegritas, dan berpusat pada kehendak Allah.
Copyrights © 2026