Artikel ini menganalisis representasi orientalisme dan hegemoni Barat dalam cerpen Telaga Angsa karya Danarto dengan menggunakan teori postkolonialisme dan semiotika. Fokus utama penelitian adalah bagaimana karakter Zahra yang mewakili kebudayaan Barat, dan Kakek yang mewakili kebudayaan Timur, menggambarkan oposisi biner antara dua kutub tersebut. Melalui analisis simbolisme dalam karakter-karakter tersebut, artikel ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana wacana dominan Barat terus mempengaruhi pemikiran dan sikap masyarakat Timur, meskipun masa penjajahan fisik telah berakhir. Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana postkolonial dan semiotika untuk mengidentifikasi simbol-simbol yang mencerminkan hegemoni Barat dalam cerpen ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerpen ini menggambarkan ketegangan antara kebudayaan Barat dan Timur yang terus berlanjut dalam masyarakat pascamodern
Copyrights © 2026