Artikel ini mengkaji perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW dalam dua babak yang saling terkait: penolakan di Thaif dan hijrah ke Yatsrib. Kajian dilakukan lewat metode kepustakaan dengan pendekatan historis-analitis, sehingga tidak berhenti pada rekonstruksi peristiwa semata, melainkan melanjutkan ke analisis nilai dan relevansi pedagogis. Temuan utamanya: fase Thaif-Yatsrib adalah titik balik yang mengubah orientasi dakwah secara mendasar, dari Makkah yang tertutup menuju Madinah yang terbuka dan berbasis komunitas. Bai'at Aqabah I dan II memperlihatkan bagaimana Nabi membangun kepercayaan secara bertahap sebelum melangkah lebih jauh, sementara Piagam Madinah menegaskan bahwa Islam tidak datang untuk menyeragamkan. Dalam konteks pembelajaran SKI di Madrasah Ibtidaiyah, fase ini kaya implikasi: mulai dari pendekatan value-based learning, integrasi Kurikulum Merdeka (Fase A-C), hingga asesmen autentik yang mengukur karakter, bukan sekadar hafalan.
Copyrights © 2026