Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa

Neologisme dalam Penamaan Kuliner Nusantara: Analisis Makna dan Pola Pembentukan Akronim

Nafri Yanti (Universitas Bengkulu)
Mekar Ismayani (IKIP Siliwangi)
Ria Saputri (Universitas Nahdlatul Wathan Mataram)



Article Info

Publish Date
20 Jun 2026

Abstract

This research is motivated by limited research on neologisms, particularly acronyms, in the context of the Indonesian language. The research aims to identify and analyze the processes of acronym formation in the names of culinary items across the Indonesian archipelago. The study employs a qualitative approach with a descriptive method. Data were collected through literature review, interviews, and direct observation. The findings reveal 63 culinary name acronyms, of which 14 have been officially recorded in the Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Most acronyms originate from West Java Province, particularly the city of Bandung, indicating the richness of local culinary culture and the community’s creativity in generating unique names. The analysis shows that the majority of acronyms consist of two syllables (74.60%), with a dominant phonological pattern of KV–KVK. The process of acronym formation generally involves combining the initial syllabic elements of the words that make up the culinary names, as seen in examples such as “cireng” (from “aci digoreng”, meaning fried tapioca starch) and “cilok” (from “aci dicolok”, meaning skewered tapioca starch). The study also reveals that acronyms are used to simplify pronunciation in everyday communication while simultaneously reflecting local identity. The results of this study are expected to enrich references in ethnolinguistic studies and serve as a consideration for expanding vocabulary entries in the KBBI, particularly for popular acronym-based culinary names. This research contributes to documenting linguistic cultural heritage through traditional Indonesian cuisine. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi minimnya kajian neologisme, khususnya akronim dalam konteks bahasa Indonesia. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi dan menganalisis proses pembentukan akronim pada nama-nama kuliner di Nusantara. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, wawancara, dan observasi langsung. Dari hasil penelitian, ditemukan 63 akronim nama kuliner, dengan 14 di antaranya telah terdaftar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Sebagian besar akronim berasal dari Provinsi Jawa Barat, khususnya Kota Bandung, yang menunjukkan kekayaan budaya kuliner lokal dan kreativitas masyarakat dalam menciptakan nama-nama unik. Analisis menunjukkan bahwa mayoritas akronim memiliki dua suku kata (74,60%) dengan pola fonologis dominan KV-KVK. Proses pembentukan akronim umumnya menggabungkan elemen suku kata awal dari kata-kata penyusun nama kuliner, seperti pada "cireng" (aci digoreng) dan "cilok" (aci dicolok). Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa akronim digunakan untuk mempermudah penyebutan dalam komunikasi sehari-hari sekaligus mencerminkan identitas lokal. Hasil kajian ini diharapkan dapat memperkaya referensi dalam studi etnolinguistik serta menjadi bahan pertimbangan dalam menambah kosakata pada KBBI, khususnya untuk nama-nama kuliner populer berbasis akronim. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam mendokumentasikan warisan budaya bahasa melalui kuliner khas Indonesia.

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

jurnal_ranah

Publisher

Subject

Description

https://ojs.badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah/about/editorialPolicies#focusAndScope ...