Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh polychronic time management terhadap burnout serta menguji peran boundary control sebagai variabel moderasi pada karyawan Generasi Z. Perkembangan lingkungan kerja yang semakin dinamis dan berbasis teknologi digital menyebabkan karyawan Generasi Z semakin terbiasa melakukan multitasking, yang berpotensi meningkatkan risiko burnout. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian kausal. Data dikumpulkan melalui survei menggunakan kuesioner terhadap karyawan Generasi Z berusia 18–29 tahun di Indonesia dengan teknik purposive sampling. Jumlah responden yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 116 orang. Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan bantuan SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa polychronic time management berpengaruh positif dan signifikan terhadap burnout pada karyawan Generasi Z. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi kecenderungan individu untuk menangani berbagai tugas secara simultan, semakin tinggi pula tingkat burnout yang dialami. Selain itu, boundary control terbukti mampu memoderasi pengaruh polychronic time management terhadap burnout. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan individu dalam mengelola batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi berperan dalam membentuk hubungan antara polychronic time management dan burnout. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan Boundary Theory dalam menjelaskan burnout pada karyawan Generasi Z melalui integrasi konsep polychronic time management dan boundary control. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memperkaya literatur mengenai burnout pada konteks kerja modern dan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika kerja karyawan Generasi Z.
Copyrights © 2026