Pendahuluan: Berdasarkan data SKI 2023, prevalensi stunting di Papua mencapai 24,8%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional 22,5%. Meskipun anggaran penanggulangan stunting meningkat tiap tahunnya, hasil yang dicapai masih belum sesuai harapan. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kejadian stunting pada balita Papua. Metode: Penelitian ini memanfaatkan data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Jumlah sampel terdiri dari 1.308 balita. Analisis data mencakup univariat, bivariat, dan multivariat guna menemukan faktor yang relevan terhadap kejadian stunting. Hasil: Dari 101 variabel yang dievaluasi, faktor yang berhubungan signifikan meliputi kebiasaan menyikat gigi (p=0,026; OR=0,700), tempat buang air besar (p=0,003; OR=0,445), pemakaian kelambu tanpa insektisida (p=0,010; OR=1,451), pengetahuan keluarga tentang stunting (p=0,045; OR=0,706), panjang lahir bayi (p=0,030; OR=1,593), serta status kepemilikan rumah (p=0,013; OR=1,475). Analisis regresi logistik menunjukkan tiga faktor dominan yaitu: tempat buang air besar, penggunaan kelambu tanpa insektisida, serta pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA). Kesimpulan: Studi ini menekankan pentingnya perhatian terhadap aspek lingkungan dalam upaya penanggulangan stunting di Provinsi Papua.
Copyrights © 2026