Pernyataan Wakil Gubernur Kristantus Kurniawan menantang Dedi Mulyadi untuk membangun Kalimantan Barat menjadi viral. Pernyataan yang disertai tantangan akan mencium lutut KDM mengandung legitimasi kekuasaan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pernyataan Kristantus Kurniawan dari konteks sosial, politik, dan budaya. Metode penelitian analisis wacana kritis ini menggunakan teori Norman Fairclough. Hasil penelitian diantaranya adalah: metafora hiperbolik terdapat kepercayaan diri dan tantangan cium lutut; konstruksi retoris dan konfrontatif pada diksi “silakan saja” dan “saya mau lihat”; terdapat konteks diskursif atas jawaban konten warga Sepauk; adanya delegitimasi dalam perbandingan wilayah Kalimantan Barat tidak bisa disandingkan dengan Jawa Barat dan konfigurasi kekuasaan tentang pembangunan desentralisasi yang belum merata; serta terdapat ideologi kuasa sebagai upaya agar publik tidak salah menginterpretasikan kinerja pemerintah. Simpulannya: pidato tersebut bersifat konfrontatif dan retoris, strategi legitimasi, control diskursif, relasi dialektis antar teks yang membentuk legitimasi.
Copyrights © 2026