Latar Belakang: Aktivitas fisik mencakup setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka dan membutuhkan pengeluaran energi, seperti rutinitas harian seperti berjalan, menyapu, berkebun dan aktivitas terstruktur seperti senam, berkebun intens, dan olahraga ringan. Hiperurisemia atau tingginya kadar-asam-urat-darah dapat menimbulkan penyakit Gout-Arthritis (radang sendi) yang diakibatkan oleh akumulasi kristal monosodium-urate (MSU) atau purin di area sendi. Secara klinis, Gout-Arthritis ditandai dengan serangan akut berupa nyeri hebat (gout), kemerahan, panas, dan pembengkakan. Banyak faktor yang mempengaruhi aktivitas fisik antara lain kondisi kesehatan seperti penyakit kronis (asam urat), obesitas, tingkat kebugaran, dan cedera. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian hiperurisemia pada lansia di panti jompo. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional-analitik dengan desain cross-sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus-Desember 2025 di panti jompo (PSTW) Kasih-Sayang-Ibu Batusangkar, Jumlah sampel sebanyak 52 lansia. Aktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner International-Physical-Activity-Questionnaire (IPAQ) versi-pendek. Hiperurisemia ditentukan dengan mengukur kadar-asam-urat darah menggunakan alat GCU-meter digital. Analisis univariat disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Pengolahan data menggunakan komputerisasi program SPSS versi IBM 26.0. Hasil: Mayoritas lansia memiliki aktifitas fisik kategori rendah sebanyak 27 orang (51,9%) dan tidak hiperurisemia atau memiliki kadar-asam-urat normal sebanyak 35 orang (67,3%). Ada hubungan aktivitas fisik dengan kejadian hiperurisemia pada lansia di panti jompo dengan nilai p =0.030. Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan kejadian hiperurisemia pada lansia di PSTW Kasih-Sayang-Ibu Batusangkar.
Copyrights © 2026