Komunitas Bubuhan Donor Darah Samarinda (BDDS) telah hadir sejak 2016 sebagai jembatan antara pendonor dan keluarga pasien yang membutuhkan darah di Kota Samarinda. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana BDDS mengelola komunikasinya dalam menyelenggarakan event donor darah periode September–November 2025, dengan melihat keterlibatan berbagai pihak di setiap tahapan kegiatan. Analisis menggunakan kerangka POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) George R. Terry, dipadukan dengan Stakeholder Theory R. Edward Freeman. Penelitian bersifat kualitatif deskriptif, dengan data diperoleh dari wawancara mendalam bersama tiga informan kunci, observasi partisipatif di enam event, dan studi dokumentasi. Hasil menunjukkan bahwa manajemen komunikasi BDDS tumbuh dari pengalaman lapangan, bukan prosedur tertulis yang kaku. Setiap tahap POAC memunculkan dinamika berbeda: PMI menjadi penentu kapasitas event sejak perencanaan, pendonor memiliki choice power yang mendorong BDDS terus berinovasi, sementara sponsor berperan sebagai daya tarik yang harus dikelola agar tidak menggeser karakter sosial kegiatan. Penelitian menemukan sejumlah tantangan struktural: sentralisasi koordinasi pada satu figur, minimnya panduan bagi mitra baru, dan evaluasi masih bersifat internal belum menyertakan pihak eksternal.
Copyrights © 2026