Konflik keluarga seringkali muncul akibat perbedaan nilai dan gaya hidup di antara anggota keluarga. Novel Kinanti karya Margareth Widhy Pratiwi menggambarkan dinamika tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan arena keluarga dan strategi yang digunakan oleh tokoh-tokoh untuk mempertahankan dan melawan kekuasaan dalam novel tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah sosiologi sastra. Perspektif teoritisnya adalah konsep arena dan strategi oleh Pierre Bourdieu, diperkuat oleh konsep hegemoni dan dominasi Antonio Gramsci. Metode penelitiannya adalah kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan menggunakan teknik membaca cermat dan mencatat. Sumber data utama adalah novel Kinanti . Data terdiri dari frasa, kata, kalimat, dan paragraf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga dalam novel ini digambarkan sebagai medan perang simbolis. Perjuangan ini muncul dari benturan antara habitus konservatif tradisional Jawa dan habitus egaliter modern. Di antara tiga puluh empat tokoh, empat arena utama diidentifikasi. Arena-arena ini menunjukkan strategi hegemoni, dominasi, kontra hegemoni, dan kontra dominasi. Strategi hegemonik melalui teladan dan perlindungan yang konsisten terbukti lebih berhasil dalam membangun ketahanan mental generasi penerus. Sementara itu, strategi dominasi yang mengandalkan ancaman ekonomi atau kekerasan fisik cenderung gagal. Kegagalan dalam menegosiasikan habitus dapat mendorong individu untuk meninggalkan arena sebagai upaya terakhir.
Copyrights © 2026