Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pendidikan inklusif dan praktik solidaritas sosial siswa berkebutuhan khusus di Madrasah Ibtidaiyah NU Kincang melalui perspektif sosiologi pendidikan. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana integrasi siswa berkebutuhan khusus dalam interaksi harian kelas mampu membentuk solidaritas sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data diperoleh dari siswa reguler, siswa berkebutuhan khusus, serta aktor pendidikan yang terlibat dalam proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga dimensi utama dalam pembentukan solidaritas sosial, yaitu keterlibatan siswa reguler dalam membantu teman berkebutuhan khusus dalam aktivitas belajar dan bermain, strategi guru dalam menciptakan pembelajaran yang mencegah isolasi sosial, serta budaya madrasah yang menekankan nilai kasih sayang dan tolong-menolong. Ketiga aspek tersebut berperan dalam membangun penerimaan sosial dan interaksi yang positif di lingkungan sekolah. Temuan ini menunjukkan bahwa pendidikan inklusif tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan hak pendidikan, tetapi juga sebagai sarana pembentukan nilai sosial. Dengan demikian, lembaga pendidikan berperan sebagai ruang sosial yang membentuk solidaritas, identitas, dan sikap inklusif peserta didik.
Copyrights © 2026