Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi akurasi dan efektivitas deteksi estrus pada sapi Friesian Holstein (FH) menggunakan metode pengamatan visual dan estrous detector. Penelitian dilaksanakan di Peternakan Esa Jaya Farm, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, dengan menggunakan 10 ekor sapi betina FH sebagai materi penelitian. Sampel dipilih dari sapi yang menggunakan alat pendeteksi estrus Datamars Livestock, dengan kriteria memiliki Body Condition Score (BCS) 2,5–4, berumur lebih dari 1,5 tahun, sehat, dan menunjukkan tanda-tanda estrus. Variabel yang diamati meliputi keberhasilan deteksi estrus, Non-Return Rate 1 (NRR1), Non-Return Rate 2 (NRR2), dan Conception Rate (CR). Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa deteksi estrus menggunakan estrous detector memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi, yaitu 88%, dibandingkan metode visual sebesar 56%. Pada parameter NRR, penggunaan aplikasi estrous detector juga menunjukkan hasil yang lebih baik, dengan NRR1 sebesar 82% dan NRR2 sebesar 73%, sedangkan metode visual menghasilkan NRR1 sebesar 79% dan NRR2 sebesar 71%. Namun demikian, nilai CR pada kedua metode sama, yaitu sebesar 10%. Rendahnya nilai CR mengindikasikan bahwa keberhasilan kebuntingan tidak hanya ditentukan oleh akurasi deteksi estrus, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lain, seperti defisit energi, tingginya produksi susu, dan manajemen reproduksi yang belum optimal. Selain itu, selama fase estrus diamati perubahan perilaku pada sapi, berupa penurunan aktivitas ruminasi, makan, dan istirahat pada kedua metode pengamatan. Disimpulkan bahwa penggunaan aplikasi estrous detector cenderung meningkatkan akurasi deteksi estrus dan memberikan perbaikan pada nilai NRR, tetapi belum meningkatkan CR. Oleh karena itu, penerapan aplikasi estrous detector perlu didukung oleh perbaikan manajemen reproduksi untuk mengoptimalkan keberhasilan inseminasi buatan.
Copyrights © 2026