Kampung perkotaan di Indonesia menghadapi tantangan dalam pengelolaan public realm, terutama pada kawasan padat yang tertekan oleh komersialisasi skala besar. Kampung Maleer di Kota Bandung menunjukkan konflik antara pedestrian, parkir, dan perdagangan informal yang menurunkan kualitas lingkungan. Pengabdian ini bertujuan mengidentifikasi masalah public realm secara partisipatif, merumuskan konsep penataan, dan menyusun masterplan sebagai instrumen awal penataan kampung. Metode meliputi survei lapangan, kuesioner, wawancara, workshop desain selama tiga bulan, serta sosialisasi dengan pemangku kepentingan. Hasil berupa konsep penataan mencakup manajemen curbside, penataan PKL, aktivasi fasad, dan integrasi green-blue infrastructure yang diformalkan dalam dokumen masterplan. Dokumen ini berfungsi sebagai acuan dan instrumen untuk meningkatkan kesiapan kampung dalam mengakses program hibah penataan kampung. Kegiatan ini menunjukkan bahwa desain dapat menjadi intervensi pengabdian tahap awal yang efektif dalam memperkuat kapasitas perencanaan dan daya saing kampung.
Copyrights © 2026