Penelitian ini membahas dilema pengembangan kampung wisata yang muncul akibat ketegangan antara kebutuhan ruang untuk wisatawan dan keterbatasan ruang hidup warga lokal. Dalam konteks perkotaan yang padat, kampung wisata mengalami transformasi spasial dari ruang hunian menjadi ruang wisata yang sarat kepentingan ekonomi, estetika, dan sosial. Pendekatan penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan paradigma kritis, menggunakan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen di kampung wisata perkotaan. Analisis dilakukan dengan kerangka teori produksi ruang Lefebvre (1991) yang meliputi tiga dimensi: spatial practice, representations of space, dan representational space. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada level praktik, warga beradaptasi secara improvisatif terhadap tekanan pariwisata dengan mengubah ruang domestik menjadi ruang ekonomi. Pada level representasi, kebijakan dan estetika ruang yang dikendalikan oleh pemerintah serta pelaku wisata menimbulkan hegemoni terhadap citra ruang lokal. Sementara itu, pada level makna, terjadi pergeseran identitas dari ruang komunal menjadi ruang konsumsi wisata.
Copyrights © 2026