Aksara
Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026

Dwiaksara Latin-Lontara dalam Lanskap Linguistik Sidenreng Rappang

Erlita Erlita (Universitas Negeri Makassar)
Mantasiah Mantasiah (Universitas Negeri Makassar)
Juanda Juanda (Universitas Negeri Makassar)



Article Info

Publish Date
20 Jun 2026

Abstract

This study analyzes the phenomenon of dual-script use, actors, and functions of the Linguistic Landscape (LL) on street signs in Sidenreng Rappang Regency. A qualitative descriptive method was employed with 200 public space language signs collected through direct observation, field photography, and systematic documentation in October–November 2025. Data were analyzed using data reduction, classification, presentation, and conclusion-drawing techniques within a sociolinguistic-semiotic framework. The results show that of 200 LL signs, 120 (60%) use monolingual Latin, 40 (20%) use monolingual Lontara, and 40 (20%) use dual-script (Latin–Lontara). The main LL actors are public authorities (top-down), consistently implementing language policies to preserve the Bugis script. The functions of the Lontara script include symbolic (marker of Bugis ethnic identity), historical aesthetic (cultural memory reinforcement), and educational (script revitalization). These findings demonstrate that regional visual policy is the primary determinant of local script representation in Indonesian urban linguistic landscapes. AbstrakPenelitian ini menganalisis fenomena dwiaksara, pelaku, dan fungsi Lanskap Linguistik (LL) pada papan nama jalan di Kabupaten Sidenreng Rappang. Metode deskriptif kualitatif digunakan dengan sumber data berupa 200 tanda bahasa di ruang publik yang dikumpulkan melalui observasi langsung, fotografi lapangan, dan dokumentasi sistematis pada bulan Oktober–November 2025. Data dianalisis melalui reduksi, klasifikasi, penyajian, dan penarikan kesimpulan dengan kerangka semiotik sosiolinguistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 200 data LL, sebanyak 120 data (60%) menggunakan Latin monolingual, 40 data (20%) menggunakan Lontara monolingual, dan 40 data (20%) menggunakan dwiaksara (Latin–Lontara). Pelaku utama LL adalah otoritas publik (top-down) yang secara konsisten mengimplementasikan kebijakan bahasa untuk pemertahanan aksara Bugis. Fungsi aksara Lontara meliputi fungsi simbolik (penanda identitas etnis Bugis), historis-estetik (penguatan memori budaya), dan edukatif (revitalisasi aksara). Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan visual daerah merupakan faktor penentu utama representasi aksara lokal dalam LL perkotaan di Indonesia.

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

aksara

Publisher

Subject

Humanities Education Languange, Linguistic, Communication & Media Social Sciences

Description

Aksara is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literature. All articles in Aksara have passed the reviewing process by peer reviewers and edited by editors. Aksara is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December. ...