The use of artificial intelligence in regional language translation is increasing, but still leaves a fundamental problem whether the system's ability to capture the equivalence of meaning, semantic nuances, and cultural values inherent in the source language, especially Makassarese, therefore this study aims to identify forms of semantic equivalence, describe semantic shifts, and identify comparative forms of translation that are appropriate to the semantic context of Indonesian and the results of artificial intelligence translations. This study uses a descriptive qualitative approach with a content analysis method. The findings show that artificial intelligence translation produces two forms of semantic equivalence, namely formal equivalence and dynamic equivalence, dominated by formal equivalence in morpheme units, words, phrases, and clauses that maintain the structure and lexical meaning of the source language. Dynamic equivalence is found in text segments that emphasize the acceptability of meaning and communicative function in the target language. In addition, semantic shifts are found in the form of level shifts and category shifts that include changes in structure, word classes, and linguistic units. This shift reflects an adaptation of the linguistic system, not a distortion of meaning. The comparison results indicate that Gemini's translation generally has a high level of semantic accuracy and is able to represent the cultural values of the Makassar language, although a small number of semantic inconsistencies were still found. AbstrakPemanfaatan kecerdasan buatan dalam penerjemahan bahasa daerah semakin meningkat, namun masih menyisakan permasalahan mendasar apakah kemampuan sistem bisa menangkap kesepadanan makna, nuansa semantik, dan nilai budaya yang melekat pada bahasa sumber, khususnya bahasa Makassar, oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk kesepadanan semantik, menguraikan pergeseran semantik, dan mengidentifikasi perbandingan bentuk penerjemahan yang sesuai dengan konteks semantik bahasa Indonesia dan hasil terjemahan kecerdasan buatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis isi. Temuan menunjukkan bahwa, penerjemahan kecerdasan buatan menghasilkan dua bentuk kesepadanan semantik, yaitu kesepadanan formal dan kesepadanan dinamis, didominasi kesepadanan formal pada unit morfem, kata, frasa, dan klausa yang mempertahankan struktur serta makna leksikal bahasa sumber. Kesepadanan dinamis ditemukan pada segmen teks yang menekankan keberterimaan makna dan fungsi komunikatif dalam bahasa sasaran. Selain itu, ditemukan pergeseran semantik berupa pergeseran tataran dan pergeseran kategori yang mencakup perubahan struktur, kelas kata, dan unit linguistik. Pergeseran tersebut mencerminkan adaptasi sistem kebahasaan, bukan distorsi makna. Hasil perbandingan menunjukkan bahwa terjemahan Gemini secara umum memiliki tingkat keakuratan semantik yang tinggi dan mampu merepresentasikan nilai budaya bahasa Makassar, meskipun masih ditemukan sejumlah kecil ketidaksepadanan makna. Dari hasil ketidaksepadanan ditemukan bahwa gemini belum mampu menerjemahkan kata yang sama dalam dua bahasa, tetapi memiliki makna yang berbeda.
Copyrights © 2026