Gelombang disrupsi teknologi di abad ke-21 tidak hanya membawa pembaruan teknis dan efisiensi, tetapi juga memicu krisis moral, sosial, dan spiritual seperti maraknya hoaks, penipuan digital, perundungan siber, dan pelanggaran privasi akibat penyalahgunaan data. Fenomena "sains tanpa jiwa" ini lahir akibat adanya dikotomi antara ilmu umum (sains-teknologi) dan ilmu agama (etika-spiritual), di mana inovasi dikembangkan secara bebas nilai (value-free) demi keuntungan materi semata. Penelitian ini bertujuan untuk mengupas pentingnya konsep integrasi ilmu sebagai kunci krusial menghadapi disrupsi teknologi serta bagaimana menginternalisasikannya dalam pendidikan tinggi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research) dengan tahapan analisis reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa integrasi ilmu berfungsi sebagai jembatan epistemologis yang mendudukkan nilai spiritual dan iman sebagai pemandu, pengontrol, dan pemberi arah laju inovasi teknologi agar tidak bersifat destruktif. Di tingkat perguruan tinggi, internalisasi nilai-nilai profetik (shiddiq, amanah, tabligh, fathanah) dalam kurikulum menjadi fondasi struktural untuk membentuk karakter mahasiswa agar adaptif terhadap teknologi, bijaksana, dan mampu memanfaatkan keilmuannya demi kemaslahatan masyarakat luas.
Copyrights © 2026