Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan jenis tindak tutur Mayor Bacok, fungsi pragmatik tuturan, serta efek perlokusi yang ditimbulkan terhadap lawan tutur. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan pragmatik. Data berupa 30 tuturan yang dipilih melalui teknik baca dan catat, kemudian diklasifikasikan berdasarkan kerangka lokusi, ilokusi, dan perlokusi Austin serta klasifikasi ilokusi Searle. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak tutur direktif menjadi jenis paling dominan dengan 14 data (46,67%), disusul tindak tutur asertif 13 data (43,33%) dan ekspresif 3 data (10,00%). Direktif muncul terutama dalam konteks pemaksaan dan perintah, asertif muncul dalam konteks pembelaan diri dan pembangunan legitimasi, sedangkan ekspresif berfungsi sebagai tekanan emosional melalui hinaan, kemarahan, dan sindiran. Penelitian menyimpulkan bahwa tindak tutur Mayor Bacok membentuk pola naratif dari direktif represif pada adegan konflik menuju asertif defensif pada adegan formal persidangan. Kontribusi penelitian ini terletak pada penguatan kajian pragmatik wacana sastra Indonesia dengan memperlihatkan bahwa tindak tutur dapat mengungkap hubungan antara bahasa, kekuasaan, pembentukan karakter, dan pergerakan alur cerita.
Copyrights © 2026