Rendahnya kemampuan literasi pada jenjang pendidikan dasar cenderung menjadi penghambat utama dalam pembentukan nalar kritis siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam bagaimana kemampuan literasi yang tidak sekadar dimaknai sebagai kecakapan membaca-tulis, melainkan kemampuan mengolah informasi berkontribusi terhadap perkembangan pola pikir kritis siswa sekolah dasar. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan pendidik, serta analisis dokumen hasil kerja siswa di SDN Penengahan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi berfungsi sebagai fondasi kognitif yang memungkinkan siswa untuk melakukan dekonstruksi pesan, mengidentifikasi bias, dan menyusun argumen yang logis. Temuan lapangan mengindikasikan bahwa siswa dengan tingkat literasi tinggi menunjukkan kecenderungan untuk bersikap skeptis secara sehat terhadap informasi baru dibandingkan siswa yang hanya memiliki kemampuan membaca mekanistik. Implikasi dari penelitian ini menegaskan bahwa transformasi kurikulum literasi harus bergeser dari sekadar kelancaran membaca menuju strategi pemahaman teks yang berbasis pertanyaan (query-based learning). Dengan demikian, penguatan literasi sejak dini merupakan syarat mutlak dalam mencetak generasi yang mampu berpikir analitis di tengah arus informasi digital yang semakin kompleks.
Copyrights © 2026