Krisis etika komunikasi dalam praktik dakwah era kontemporer, ditandai dengan maraknya ujaran kebencian, pendekatan konfrontatif, dan konten dakwah yang mempermalukan mad'u menunjukkan perlunya panduan etis yang bersumber dari Al-Qur'an. Penelitian ini bertujuan: (1) menganalisis penafsiran qaulan layyinan dalam QS. Thaha ayat 44 menurut Tafsir al-Ṭabarī dan Tafsir Al-Mishbah; (2) mengontekstualisasikan maknanya dalam dakwah era kontemporer; dan (3) merumuskan implementasi praktisnya sebagai panduan etis bagi para dai. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berjenis kepustakaan (library research) dengan pendekatan tafsir komparatif (muqaran). Data dianalisis melalui tiga tahap: analisis isi, analisis komparatif, dan analisis kontekstualisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Ṭabari menafsirkan qaulan layyinan secara konkret-operasional melalui penghormatan martabat lawan bicara, sementara Quraish Shihab menafsirkannya secara holistik-kontekstual sebagai ucapan yang tepat kandungan, waktu, tempat, dan susunan kata, dengan tujuan mengantarkan mad'u pada kekaguman kepada Allah. Sintesis keduanya menghasilkan panduan implementatif qaulan layyinan yang relevan dalam berbagai konteks dakwah kontemporer. Penelitian ini berkontribusi pada pengayaan kajian tafsir komparatif sekaligus menawarkan panduan etis bagi para dai dalam menghadapi tantangan komunikasi dakwah masa kini.
Copyrights © 2026