Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk, dinamika, serta dampak bullying verbal dalam interaksi anak-anak di Sekolah Rakyat Merdeka Kalteng (SRMK), sebuah pendidikan alternatif berbasis komunitas yang berlokasi di bawah Jembatan Kahayan, Palangka Raya. Menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, penelitian ini menemukan bahwa bullying verbal merupakan bentuk perundungan yang paling dominan pada anak usia 3–12 tahun. Bentuknya meliputi ejekan fisik, penghinaan ekonomi, panggilan bernada merendahkan, dan sorakan kelompok. Meskipun sering dianggap sebagai candaan biasa, tindakan tersebut berdampak pada menurunnya rasa percaya diri, munculnya perasaan tidak aman, dan kecenderungan menarik diri dari kegiatan belajar. Dengan menggunakan perspektif solidaritas Émile Durkheim, ditemukan bahwa bullying verbal menghambat terbentuknya solidaritas organik, karena menciptakan jarak sosial, melemahkan empati, serta menurunkan kohesi kelompok anak. Penelitian ini menegaskan pentingnya penerapan strategi anti-bullying, seperti penggunaan bahasa positif, permainan kolaboratif, serta diskusi emosional, guna memperkuat nilai kebersamaan dan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan aman.
Copyrights © 2026