Pembacaan kontekstual terhadap Hadis menjadi kebutuhan penting dalam studi Islam kontemporer, terutama ketika teks-teks keagamaan berhadapan dengan persoalan modern seperti keadilan gender, pluralitas agama, etika sosial, transformasi ekonomi, dan perubahan struktur kehidupan umat. Problem interpretasi sering muncul ketika ayat dan hadis dipahami secara literal, parsial, dan terlepas dari konteks historis kemunculannya. Dalam konteks tersebut, hermeneutika double movement Fazlur Rahman menawarkan pola pembacaan yang bergerak dari problem masa kini menuju konteks historis pewahyuan atau kemunculan hadis, kemudian kembali ke masa kini dengan membawa ideal moral yang ditemukan dari teks. Artikel ini bertujuan menganalisis konsep, cara kerja, dan kontribusi double movement dalam pembacaan kontekstual Hadis, sekaligus merumuskan tawaran konseptual berupa paradigma etis-hermeneutis integratif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif kepustakaan dengan pendekatan hermeneutis-konseptual. Data diperoleh dari literatur akademik yang membahas Fazlur Rahman, tafsir kontekstual, hermeneutika Islam, dan reinterpretasi hadis, kemudian dianalisis melalui analisis tematik-reflektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa double movement memiliki empat fungsi utama: mengoreksi pembacaan literal-atomistik, menempatkan historisitas teks sebagai jalan menemukan ideal moral, mengaktualisasikan nilai hadis dalam isu sosial modern, dan membuka ruang reinterpretasi hadis secara lebih adil melalui pembacaan sosio-historis. Kebaruan artikel ini terletak pada perumusan double movement bukan hanya sebagai metode tafsir, melainkan sebagai paradigma etis-hermeneutis integratif yang menghubungkan hadis sebagai horizon nilai moral universal dan Hadis sebagai artikulasi historis-profetik dari nilai tersebut. Dengan demikian, Hadis dapat dibaca secara saling menerangi, tetap otoritatif, dan responsif terhadap tantangan masyarakat kontemporer
Copyrights © 2026