Artikel ini mengkaji marginalisasi masyarakat Betawi sebagai etnik asli Jakarta melalui perspektif Kritik Sosial dengan teori pluralisme budaya Horace Kallen. Penelitian kualitatif berbasis data sekunder ini menunjukkan bahwa penggusuran sistematis pada 1950-an-1970-an, urbanisasi tak terkendali, rendahnya pendidikan, dan kerentanan ekonomi telah memaksa Betawi kehilangan tanah dan identitas budaya. Teori Kallen dengan metafora "orkestra" relevan untuk mengkritisi kebijakan melting pot, namun memiliki keterbatasan karena mengabaikan realitas kekuasaan dan dimensi material. Diperlukan teori sosial kritis yang membongkar relasi kuasa dan kapitalisme di balik narasi "pembangunan". Pluralisme sejati membutuhkan transformasi struktural dengan pengakuan hak atas tanah, pendidikan, dan sumber daya secara adil, bukan sekadar pengakuan simbolik. Kasus Betawi menegaskan bahwa multikulturalisme tanpa keadilan struktural adalah kosong, dan "Bhineka Tunggal Ika" tanpa pengakuan hak hanyalah slogan. Tugas kritik sosial adalah mengembalikan suara Betawi sebagai subjek hidup dalam orkestra Jakarta.
Copyrights © 2026