Mukositis oral merupakan komplikasi umum pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi atau radioterapi pada area kepala dan leher, dengan sekitar 40% pasien kemoterapi mengalami efek samping ini. Mukositis yang berat dan tidak tertangani dapat menghambat pengobatan kanker, memperpanjang waktu rawat inap, dan menurunkan kualitas hidup pasien. Memahami penegakan diagnosis mukositis oral akibat kemoterapi guna mencegah peningkatan keparahan dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Mukositis oral merupakan komplikasi inflamasi mukosa yang secara klinis ditandai oleh eritema, ulserasi, nyeri, dan perdarahan. Patogenesisnya terdiri atas lima fase, yaitu inisiasi, inflamasi, amplifikasi sinyal kerusakan, ulserasi, dan penyembuhan. Derajat keparahan mukositis oral dinilai berdasarkan klasifikasi World Health Organization (WHO) dan National Cancer Institute – Common Terminology Criteria for Adverse Events (NCI-CTCAE), mulai dari derajat 1 (ringan) hingga derajat 5 (kematian akibat toksisitas kemoterapi). Insidensi dan tingkat keparahannya dipengaruhi oleh kerentanan pasien dan jenis kemoterapi yang digunakan. Penanganan mukositis oral meliputi perawatan dasar mulut, agen antiinflamasi, fotobiomodulasi dan metode pendinginan oral. Diagnosis dini dan penatalaksanaan yang tepat terhadap mukositis oral diharapkan dapat memperbaiki prognosis dan kualitas hidup pasien kanker yang menjalani kemoterapi.
Copyrights © 2026