Rendahnya kemampuan berpikir kritis dan bertanya pada siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia disebabkan oleh pembelajaran yang masih terpusat pada guru, kurang bervariasi, dan belum memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir, berdiskusi, dan mengungkapkan pendapatnya. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan bertanya siswa melalui implementasi model BAHIMAT yang merupakan kombinasi dari model Problem Based Learning, Think Pair Share, dan Make a Match. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dalam pertemuan empat pada 26 siswa kelas III SDN Gadang 2. Data dikumpulkan melalui observasi kemampuan berpikir kritis dan bertanya, kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi model BAHIMAT mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan bertanya siswa secara signifikan pada setiap pertemuan. Persentase kemampuan berpikir kritis meningkat dari 31% pada pertemuan pertama menjadi 88% pada pertemuan keempat, sedangkan kemampuan bertanya meningkat dari 19% menjadi 88%. Peningkatan ini menunjukkan bahwa siswa semakin mampu menganalisis informasi, memberikan penjelasan dan alasan atas jawaban, dan mengajukan pertanyaan yang relevan selama proses pembelajaran. Dengan demikian, penerapan model BAHIMAT efektif digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam belajar Bahasa Indonesia di sekolah dasar. Rendahnya keterampilan berpikir kritis dan bertanya siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia disebabkan oleh pembelajaran yang masih melekat pada guru, kurang bervariasi, serta belum memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir, berdiskusi, dan mengemukakan pendapat. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan bertanya siswa melalui penerapan model BAHIMAT yang merupakan kombinasi model Problem Based Learning, Think Pair Share, dan Make a Match. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam pertemuan empat pada 26 siswa kelas III SDN Gadang 2. Data dikumpulkan melalui observasi keterampilan berpikir kritis dan bertanya, kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi model BAHIMAT mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan bertanya murid secara signifikan pada setiap pertemuan. Persentase keterampilan berpikir kritis meningkat dari 31% pada pertemuan pertama menjadi 88% pada pertemuan ke empat, sedangkan keterampilan bertanya meningkat dari 19% menjadi 88%. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa murid semakin mampu menganalisis informasi, memberikan penjelasan dan alasan terhadap jawaban, serta mengajukan pertanyaan yang relevan selama proses pembelajaran. Dengan demikian, implementasi model BAHIMAT efektif digunakan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan bertanya siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar.
Copyrights © 2026