Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena ibadah Haji Furoda di Indonesia sebagai praktik ekonomi yang melekat (Embedded) dalam jaringan sosial dan konstruksi kepercayaan diruang sacral. Ditengah menguatnya kapitalisme religious, ibadah haji tidak lagi semata dipahami sebagai praktik spiritual, melainkan juga sebagai arena pertukaran ekonomi yang kompleks. Haji Furoda, sebagai jalur non kuota regular, menghadirkan dinamika ketidakpastian legalitas, risiko keberangkatan, serta tingginya biaya, sehingga menjadikan kepercayaan (trust) dan jejaring sosial sebagai modal utama dalam proses transaksinya. Dengan menggunakan perspektif Ebeddedness dari mark Granovetter, penelitian ini menolak pandangan ekonomi yang memisahkan Tindakan pasar dari konteks sosialnya. Pendekatan kualitatif digunakan untuk memotret bagaimana relasi personal, reputasi dan otoritas religious serta kedekatan sosial berperan dalam membentuk legitimasi serta mengurangi risiko dalam praktik Haji Furoda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transaksi Haji Furoda tidak berjalan semata berdasarkan mekanisme penawaran dan permintaan, tetapi ditopang oleh jaringan kepercayaan yang terbangun melalui relasi sosial, symbol religious, serta distribusi informasi informal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ruang sacral tidak steril dari logika pasar, melainkan menjadi arena dimana nilai spiritual dan nilai ekonomi saling berkelindan. Dengan demikian, studi ini berkontribusi dalam memperluas kajian sosiologi agama, khususnya dalam memahami bagaimana Tindakan ekonomi dalam praktik keagamaan dikonstruksi dan dilegitimasi melalui keterlekatan sosial di Indonesia.
Copyrights © 2026