Perkembangan teknologi digital menempatkan siswa sekolah menengah pertama sebagai pengguna aktif ruang siber, namun keterampilan teknis tersebut belum selalu diikuti oleh kematangan etika. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan internalisasi nilai Tri Kaya Parisudha dalam penguatan etika digital siswa SMP Negeri 5 Tabanan, menganalisis fungsi nilai tersebut, dan menjelaskan dampaknya terhadap perilaku digital siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi reflektif, dan studi dokumentasi dengan melibatkan siswa kelas IX, guru, kepala sekolah/wakil kesiswaan, serta orang tua. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, pengelompokan tema, interpretasi makna pengalaman, dan triangulasi sumber serta teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai berlangsung melalui tiga jalur utama. Manacika dikembangkan melalui kebiasaan berpikir kritis sebelum menerima, menanggapi, atau membagikan informasi. Wacika tampak pada kemampuan menjaga pilihan kata dalam pesan, komentar, dan interaksi digital. Kayika terlihat pada tindakan bertanggung jawab, seperti tidak menyebarkan konten negatif, menjaga privasi, dan menggunakan media digital untuk aktivitas positif. Nilai Tri Kaya Parisudha berfungsi sebagai pedoman evaluatif, kontrol diri, dan orientasi moral. Dampaknya tampak pada meningkatnya kehati-hatian, kesantunan komunikasi, dan tanggung jawab siswa dalam bermedia. Temuan ini menegaskan bahwa kearifan lokal Bali dapat menjadi basis kontekstual pendidikan karakter digital di sekolah.
Copyrights © 2026