Jurnal Nirta: Studi Inovasi
Vol 5 No 2 (2026): Jurnal Nirta : Studi Inovasi

Filsafat Ilmu di Era Digital: Media Sosial dan Transformasi Otoritas

Nawa, Ulzana Nurlian (Unknown)
Nasution , Hasyimsyah (Unknown)
Salamuddin, Salamuddin (Unknown)



Article Info

Publish Date
26 Jun 2026

Abstract

The development of digital technology has fundamentally transformed the ways in which knowledge is produced, distributed, and legitimized. Social media platforms such as WhatsApp, Instagram, TikTok, and YouTube have become not only means of communication but also primary arenas for the circulation of scientific and philosophical ideas. This paper aims to analyze the transformation of authority in the philosophy of science in the digital age, particularly in the context of social media and the post-truth phenomenon. Using a qualitative approach based on a literature review, this study examines how epistemic authority is shifting from academic institutions to more open digital spaces that are, however, vulnerable to information distortion. The findings indicate that social media fosters the democratization of knowledge while simultaneously triggering a crisis of epistemic authority due to the influence of algorithms, virality, and the proliferation of disinformation. Furthermore, the speed of information flow is often not matched by adequate verification. Therefore, philosophy of science literacy is essential for building critical skills in evaluating claims of truth in the post-truth era. This paper concludes that the philosophy of science needs to be repositioned as a reflective tool. Perkembangan teknologi digital telah mengubah secara fundamental cara produksi, distribusi, dan legitimasi pengetahuan. Media sosial seperti WhatsApp, Instagram, TikTok, dan YouTube tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga arena utama sirkulasi gagasan ilmiah dan filosofis. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis transformasi otoritas dalam filsafat ilmu di era digital, khususnya dalam konteks media sosial dan fenomena post-truth. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur, penelitian ini mengkaji bagaimana otoritas epistemik bergeser dari institusi akademik ke ruang digital yang lebih terbuka namun rentan terhadap distorsi informasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa media sosial menciptakan demokratisasi pengetahuan sekaligus memunculkan krisis otoritas epistemik akibat pengaruh algoritma, viralitas, serta maraknya disinformasi. Selain itu, kecepatan arus informasi sering kali tidak diimbangi dengan verifikasi yang memadai. Oleh karena itu, literasi filsafat ilmu menjadi penting untuk membangun kemampuan kritis dalam mengevaluasi klaim kebenaran di era post-truth. Artikel ini menyimpulkan bahwa filsafat ilmu perlu direposisi sebagai alat reflektif

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

JNSI

Publisher

Subject

Decision Sciences, Operations Research & Management Economics, Econometrics & Finance Education

Description

artikel penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada bidang keilmuan yaitu Pendidikan, Manajemen dan ...