Penelitian ini menganalisis framing pemberitaan Kompas selama Reformasi Mei 1998 dan dampaknya terhadap jatuhnya kepemimpinan Presiden Soeharto. Menggunakan teori framing Robert M. Entman, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana Kompas memilih, menonjolkan, dan menyajikan isu-isu krisis ekonomi, pelanggaran HAM, dan protes mahasiswa untuk membentuk persepsi publik terhadap pemerintahan Orde Baru. Kompas secara konsisten membingkai masalah utama sebagai krisis multidimensi yang diakibatkan oleh kegagalan pemerintah, dan menggambarkan mahasiswa serta masyarakat sebagai korban ketidakadilan. Framing ini mendorong publik untuk melihat tindakan represif aparat sebagai pelanggaran hak asasi manusia yang semakin merusak legitimasi pemerintah. Melalui pemberitaan tentang peristiwa-peristiwa seperti kematian mahasiswa dalam insiden Trisakti dan meningkatnya protes, Kompas menyampaikan kritik terhadap pemerintah yang dianggap tidak mampu merespons tuntutan rakyat. Framing ini mengarah pada penguatan kesadaran sosial dan mempercepat delegitimasi Soeharto sebagai pemimpin. Pemberitaan Kompas juga memunculkan solusi berupa reformasi dan transisi kepemimpinan yang damai sebagai langkah yang diperlukan untuk memperbaiki kondisi negara. Studi ini menyimpulkan bahwa Kompas berperan penting dalam mempercepat proses reformasi di Indonesia dengan memberikan informasi yang membentuk opini publik yang kritis, yang pada akhirnya berkontribusi pada pengunduran diri Soeharto pada Mei 1998.
Copyrights © 2026