Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena lagu "33x" karya kelompok musik Perunggu yang menjadi sarana refleksi sosiopsikologis bagi generasi kontemporer dalam menghadapi krisis eksistensial dan fenomena hustle culture. Penelitian ini bertujuan untuk membedah mekanisme kebahasaan yang digunakan Perunggu dalam mengejawantahkan pesan spiritual dan introspektif melalui analisis diksi dan majas. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan stilistika, di mana data berupa unit-unit linguistik dalam lirik lagu "33x" dianalisis secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lirik lagu ini didominasi oleh penggunaan diksi konotatif yang terbagi menjadi kategori religius-filosofis, krisis batin, dan imperatif-solutif. Selain itu, ditemukan penggunaan majas repetisi (epizeukis) yang intensif sebagai fungsi persuasif, serta majas metafora dan simbolisme yang mentransformasi konsep abstrak menjadi citra konkret
Copyrights © 2026