Artikel ini mengkaji mobilitas sosial Khayzurān, seorang jāriyah yang kemudian menjadi istri al-Mahdī, ibu al-Hādī dan al-Rashīd, serta patron politik di istana Abbasiyah. Dengan pendekatan sejarah sosial, sejarah perempuan, analisis mobilitas, dan kritik historiografi, penelitian ini menelusuri bagaimana status hukum, fungsi reproduktif, kedudukan dinastik, dan jaringan patronase saling dikonversi menjadi otoritas politik. Sumber utama berasal dari al-Ṭabarī, al-Yaʿqūbī, al-Masʿūdī, Ibn al-Athīr, dan al-Khaṭīb al-Baghdādī, disertai kajian modern tentang perbudakan dan perempuan istana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan Khayzurān tidak berlangsung linear. Pembebasan, perkawinan, keibuan dinasti, dan patronase bekerja sebagai tahap yang saling menguatkan, tetapi tetap bergantung pada struktur perbudakan dan kedaulatan laki-laki. Konfliknya dengan al-Hādī memperlihatkan bahwa otoritas maternal diterima selama menopang dinasti, namun dipersoalkan ketika berkembang menjadi pusat kekuasaan yang relatif mandiri. Mobilitas Khayzurān, karena itu, nyata sekaligus terbatas. Artikel ini menegaskan bahwa mobilitas individual tidak identik dengan emansipasi struktural bagi perempuan budak Abbasiyah klasik secara lebih luas.
Copyrights © 2026