Menulis reflektif telah lama dipahami sebagai praktik pedagogis dan spiritual dalam pendidikan teologi. Namun sebagian besar penelitian masih berfokus pada manfaat pedagogis, psikologis dan pembentukan karakter. Perhatian terhadap menulis buku harian sebagai proses hermeneutik pembentukan pemahaman diri masih terbatas. Berlandaskan hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer, penelitian ini bertujuan memahami bagaimana mahasiswa pastoral memaknai praktik menulis buku harian dalam perjalanan iman dan proses formasi mereka. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif. Data dikumpulkan melalui wawancara dialogis semi-terstruktur terhadap 12 mahasiswa STP St. Petrus Keuskupan Atambua dan dianalisis menggunakan interpretasi hermeneutik Gadamerian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menulis buku harian berfungsi sebagai ruang hermeneutik pembentukan kesadaran diri, media dialog dengan kecemasan dan tekanan eksistensial, praktik reinterpretasi pengalaman dan transformasi makna hidup, ruang relasional yang memperdalam pemahaman diri, praktik spiritual untuk mengenali karya Allah, serta sarana pembentukan identitas calon pelayan pastoral. Temuan ini menunjukkan bahwa menulis buku harian bukan sekadar teknik refleksi. Menulis merupakan praktik hermeneutik-spiritual yang memungkinkan mahasiswa menafsirkan pengalaman, memperdalam iman dan membangun identitas pastoral secara reflektif. Penelitian ini memperluas kajian teologi pastoral dan pendidikan teologi dengan menempatkan menulis sebagai peristiwa pemahaman yang mengintegrasikan dimensi eksistensial, relasional, spiritual dan vokasional dalam proses formasi.
Copyrights © 2026