Perilaku merokok pada remaja tetap menjadi tantangan kesehatan masyarakat global yang krusial. Bukti empiris menunjukkan bahwa tekanan emosional dan degradasi kesehatan mental merupakan determinan signifikan di balik perilaku ini. Remaja cenderung memfungsikan rokok bukan sekadar sebagai manifestasi rasa ingin tahu atau konformitas teman sebaya, melainkan sebagai instrumen koping untuk meregulasi distres emosional, kecemasan, dan depresi. Tujuan: Mensintesis makna subjektif merokok sebagai mekanisme koping emosional pada remaja serta implikasinya terhadap kesehatan mental. Metode: Systematic review dilakukan melalui basis data PubMed, Google Scholar, dan repositori institusional. Tiga puluh artikel (2019–2025) berskala nasional dan internasional dianalisis secara tematik. Hasil: Sintesis data menghasilkan lima tema sentral: (1) merokok sebagai katarsis emosional dan pereda stresor harian, (2) konstruksi makna psikologis subjektif terkait identitas merokok, (3) peran lingkungan sosial dan tekanan kelompok yang melegitimasi merokok sebagai strategi adaptasi, (4) hubungan resiprokal antara ketergantungan nikotin dan gangguan kesehatan mental, serta (5) adanya kesenjangan pada intervensi konvensional yang cenderung mengabaikan dimensi emosional subjektif remaja. Kesimpulan: Merokok berakar kuat pada pengalaman psikologis kompleks. Program promosi kesehatan harus bertransformasi dari edukasi bahaya fisik menuju pendekatan yang mempertimbangkan makna subjektif dan penguatan kerentanan emosional.
Copyrights © 2026