Tanaman kopi (Coffea sp.) memiliki nilai ekonomis tinggi dan menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat pedesaan. Kebun kopi rakyat menempati areal yang sangat luas, kondisinya sangat beragam dan produktivitasnya masih rendah. Kondisi tanah berpasir masam yang miskin unsur hara diduga menjadi kendala utama rendahnya produktivitas kopi rakyat. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh aplikasi kapur dalam lubang resapan biopori (LRB 40 cm) terhadap karakteristik tanah topsoil dan subsoil di kebun kopi rakyat di wilayah Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Penelitian lapangan melibatkan tujuh perlakuan, yaitu P0(Kontrol tanpa LRB), BK(LRB Kosong), KP1(LRB + AgLime dosis 1 ton ha-1), KP2 LRB + AgLime dosis 2 ton ha-1), KP3 LRB + AgLime dosis 3 ton ha-1), KP4 (LRB + AgLime dosis 4 ton ha-1), KP5 (LRB + AgLime dosis 5 ton ha-1). Setiap perlakuan diulang empat kali dalam rancangan acak kelompok. Petak perlakuan berukuran 12m x 12 m berisi 25 tanaman kopi dengan jarak tanam 3m x 3m, tiga tanaman kopi sampel berada di tengah petak , pada setiap tanaman sampel ini dipasang empat LRB. Pengamatan dilakukan 5 bulan setelah aplikasi (BSA) meliputi pH tanah, C-organik, N-total dan P-tersedia, Kadar P-daun, N-daun, klorofil daun dan produksi kopi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi kapur pertanian di lubang resapan biopori (LRB) dapat memperbaiki kualitas tanah dengan indikator peningkatan relatif kandungan C-organik sebesar 25.80 %, N-total sebesar 33.33 % dan P-Bray1 sebesar 34.51 % pada kedalaman tanah 0-60 cm dibandingkan kontrol. Aplikasi kapur pertanian di LRB juga meningkatkan produksi kopi sebesar 40-45% dibandingkan kontrol. Produksi tanaman kopi (Y) berhubungan erat dengan kandungan P-tersedia (0 – 20 cm) (X1), C-organik (20 – 40 cm) (X2), P-tersedia (40 – 60 cm) (X3), P-daun (X4) dan kandungan klorofil (X5) dengan urutan kontribusi pengaruh terhadap produksi kopi : X1 > X3 > X4 > X2 > X5.Â
Copyrights © 2024