Akselerasi digitalisasi pasar tradisional melahirkan tekanan psikologis baru yang berpotensi menghambat keberlanjutan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena technostress digital (stres akibat tekanan teknologi) dan bagaimana para pedagang membangun resiliensi (kemampuan bangkit dari tekanan) modal manusia adaptif kolektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomologi untuk menggali pengalaman nyata yang dihidupi (lived experience) oleh para pedagang tradisional. Informan penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria ketat, melibatkan lima belas pedagang aktif di Pasar Petisah Medan yang telah beroperasi minimal sepuluh tahun dan mengadopsi minimal satu platform digital, di mana interaksi dihentikan setelah mencapai titik saturasi data. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis menggunakan metode analisis tematik kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa technostress digital bermanifestasi dalam bentuk alienasi algoritma (rasa terasing dengan sistem digital) dan erosi identitas relasional akibat hilangnya interaksi sosial tatap muka. Namun, para pedagang berhasil membangun resiliensi modal manusia adaptif secara kolektif melalui strategi collective coping berupa transfer pengetahuan antargenerasi secara horizontal lintas kios dan kapitalisasi solidaritas pasar berbasis komunitas tempatan. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa pengembangan modal manusia di sektor informal tidak boleh mengabaikan kesejahteraan mental dan ekosistem sosial pendukung. Kebijakan digitalisasi pasar tradisional oleh pemerintah daerah sebaiknya tidak disamaratakan dengan mal modern, melainkan harus mempertahankan ruang interaksi humanis melalui pendampingan digital berbasis komunitas.
Copyrights © 2026