Ketimpangan gender dalam pengalaman ruang masih menjadi permasalahan global yang tercermin dalam keterbatasan akses perempuan terhadap ruang publik, representasi yang bias maskulin dalam arsitektur kontemporer, serta segregasi spasial dalam bangunan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau perkembangan teori arsitektur feminis dan konsep ruang gender dalam memahami relasi arsitektur, ruang, dan gender, serta mengeksplorasi pengalaman perempuan dalam ruang domestik maupun publik direpresentasikan dan dinegosiasikan. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review dengan basis data Scopus, melalui tahapan pencarian, seleksi berdasarkan kriteria inklusi-eksklusi, hingga diperoleh 13 artikel yang dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teori arsitektur feminis berkembang dari kritik atas bias modernisme menuju gagasan ruang inklusif yang menekankan keadilan spasial dan akses setara. Pada ruang domestik, perempuan kerap diposisikan dalam ranah subordinasi, tetapi juga dapat menegosiasikan identitas dan agensi melalui praktik keseharian dan pengelolaan rumah tangga. Dalam arsitektur vernakular, perempuan memperoleh otoritas lebih besar melalui tradisi pewarisan dan posisi simbolik dalam ruang inti. Sebaliknya, dalam arsitektur monumental dan modern, perempuan sering direduksi pada tubuh atau dibuat tidak terlihat, meskipun negosiasi tetap muncul melalui strategi desain feminis maupun adaptasi spasial. Temuan ini menegaskan bahwa pengalaman perempuan dalam arsitektur bersifat ambivalen, selalu berada di antara reproduksi patriarki dan resistensi. Penelitian ini juga mengidentifikasi gap, yaitu kurangnya kajian interseksionalitas dan keterbatasan studi di Asia Tenggara, sehingga penelitian lanjutan perlu diarahkan pada konteks lokal dan ruang-ruang kontemporer. Dengan demikian, arsitektur feminis dapat berfungsi tidak hanya sebagai kritik, tetapi juga sebagai kerangka konseptual untuk menciptakan ruang yang lebih inklusif, aman, dan setara bagi semua gender.
Copyrights © 2026