Andini Puspita Sucahyawati
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Pola Arsitektur Biofilik Terhadap Kualitas Hidup Taman Kota (Studi Kasus: Taman Singha Merjosari) Andini Puspita Sucahyawati
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan Kota Malang menyebabkan penurunan jumlah ruang terbuka publik disertai dengan penurunan kualitasnya. Arsitektur biofilik menghubungkan manusia dengan alam pada tata ruang luar dan dalam meningkatkan kualitas hidup. Namun, penelitian terkait penerapan arsitektur biofilik yang sesuai dengan kondisi taman kota Indonesia masih belum banyak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penerapan pola arsitektur biofilik pada Taman Singha Merjosari serta menganalisis persepsi pengunjung terkait tingkat layanan dan kepentingan bagi kualitas hidup. Jenis penelitian kuantitatif digunakan dengan pengumpulan data melalui observasi visual, dokumentasi, dan kuisioner. Data dianalisis melalui analisis visual dan Importance Performance Analysis. Penerapan pola arsitektur biofilik di Taman Singha Merjosari yang paling banyak adalah kelapangan, sedangkan pola yang paling sedikit diterapkan adalah ketegangan/resiko. Sementara itu, kualitas hidup Taman Singha Merjosari yang paling tercapai adalah kesegaran fisik, sedangkan yang kurang tercapai adalah keakraban sosial. Taman Singha Merjosari memerlukan optimalisasi penerapan pola arsitektur biofilik untuk pola keberadaan air, pencahayaan dinamis, bentuk dan pola biomorfik, kerumitan dan tatanan alam, misteri, perlindungan, serta koneksi material dengan alam. Optimalisasi pada penerapan pola-pola tersebut dapat meningkatkan kualitas taman yang dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan pengunjung dengan mempertimbangkan pengaruhnya terhadap kualitas hidup. Kata kunci: Arsitektur biofilik, kualitas hidup, ruang terbuka, Taman Singha Merjosari
Arsitektur Feminis, Ruang Gender, Dan Pengalaman Perempuan: Systematic Literature Review Andini Puspita Sucahyawati; Susilo Kusdiwanggo; Ema Yunita Titisari
Brawijaya Journal of Social Science Vol. 5 No. 2 (2026): Brawijaya Journal of Social Science (BJSS)
Publisher : Sociology Department, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.bjss.2026.005.02.3

Abstract

Ketimpangan gender dalam pengalaman ruang masih menjadi permasalahan global yang tercermin dalam keterbatasan akses perempuan terhadap ruang publik, representasi yang bias maskulin dalam arsitektur kontemporer, serta segregasi spasial dalam bangunan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau perkembangan teori arsitektur feminis dan konsep ruang gender dalam memahami relasi arsitektur, ruang, dan gender, serta mengeksplorasi pengalaman perempuan dalam ruang domestik maupun publik direpresentasikan dan dinegosiasikan. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review dengan basis data Scopus, melalui tahapan pencarian, seleksi berdasarkan kriteria inklusi-eksklusi, hingga diperoleh 13 artikel yang dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teori arsitektur feminis berkembang dari kritik atas bias modernisme menuju gagasan ruang inklusif yang menekankan keadilan spasial dan akses setara. Pada ruang domestik, perempuan kerap diposisikan dalam ranah subordinasi, tetapi juga dapat menegosiasikan identitas dan agensi melalui praktik keseharian dan pengelolaan rumah tangga. Dalam arsitektur vernakular, perempuan memperoleh otoritas lebih besar melalui tradisi pewarisan dan posisi simbolik dalam ruang inti. Sebaliknya, dalam arsitektur monumental dan modern, perempuan sering direduksi pada tubuh atau dibuat tidak terlihat, meskipun negosiasi tetap muncul melalui strategi desain feminis maupun adaptasi spasial. Temuan ini menegaskan bahwa pengalaman perempuan dalam arsitektur bersifat ambivalen, selalu berada di antara reproduksi patriarki dan resistensi. Penelitian ini juga mengidentifikasi gap, yaitu kurangnya kajian interseksionalitas dan keterbatasan studi di Asia Tenggara, sehingga penelitian lanjutan perlu diarahkan pada konteks lokal dan ruang-ruang kontemporer. Dengan demikian, arsitektur feminis dapat berfungsi tidak hanya sebagai kritik, tetapi juga sebagai kerangka konseptual untuk menciptakan ruang yang lebih inklusif, aman, dan setara bagi semua gender.