Kemampuan mengukur merupakan landasan krusial bagi murid untuk mentransformasikan fakta empiris hasil pengamatan menjadi data kuantitatif yang valid sebagai dasar penarikan kesimpulan ilmiah. Namun, pembelajaran kimia di sekolah kerap menghadapi tantangan dalam melatih murid menyelaraskan hasil pengukuran praktikum dengan landasan teori ilmiah yang bersifat abstrak. Penelitian kuantitatif eksperimen semu menggunakan Posttest-Only Control Group Design ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan teknik scaffolding berbantuan Artificial Intelligence (ChatGPT) dalam model Inkuiri Terbimbing terhadap kemampuan mengukur murid pada praktikum asam basa di SMAN Titian Teras. Sampel penelitian ditentukan melalui teknik purposive sampling, yang terdiri dari kelas XI F-5 sebagai kelas eksperimen yang diberi perlakuan scaffolding cueing berbantuan AI dan kelas XI F-6 sebagai kelas control yang diberikan perlakuan scaffolding bimbingan langsung berbantuan AI. Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen tes uraian (posttest) untuk mengetahui tingkat keterampilan murid dalam mengukur. Pengujian hipotesis menggunakan statistik non-parametrik melalui uji Mann-Whitney U pada taraf signifikansi 0,05, karena data tidak berdistribusi normal. Hasil analisis statistik menggunakan uji Mann-Whitney U, diperoleh nilai signifikansi Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar < 0,001 (p < 0,05), hal ini yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan secara kuantitatif antara kedua kelompok. Oleh karena itu, pemberian petunjuk tidak langsung (cueing) secara bertahap dengan berbantuan AI (ChatGPT) terbukti efektif meningkatkan Keterampilan Proses Sains (KPS) murid dalam mengukur pada praktikum asam basa.
Copyrights © 2026