Sarkasme digital menjadi gejala umum dalam komunikasi media sosial, tetapi pemaknaannya sering sulit karena interaksi daring kehilangan isyarat nonverbal seperti intonasi, ekspresi wajah, dan gestur. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan cara mahasiswa Generasi Z memersepsikan dan memproses sarkasme digital melalui perspektif psikolinguistik. Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif yang didukung respons kualitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner Google Form kepada 39 mahasiswa aktif pengguna media sosial. Instrumen penelitian mencakup paparan dan kebiasaan, persepsi fungsi sarkasme, peran konteks, kemampuan interpretasi, penanda digital, respons afektif, strategi pemrosesan, dan risiko salah tafsir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memandang sarkasme digital tidak hanya sebagai humor, tetapi juga sebagai kritik tidak langsung, ekspresi emosi, dan komentar sosial. Pemahaman sarkasme sangat dipengaruhi oleh konteks, emoji, tanda baca, huruf kapital, meme, serta strategi membaca ulang. Implikasinya, literasi digital dan kesadaran kontekstual penting untuk mengurangi salah tafsir dalam komunikasi daring.
Copyrights © 2026