Komunikasi digital menjadikan emoji sebagai media visual penting untuk mengekspresikan emosi, sikap, dan makna interpersonal dalam interaksi daring. Akan tetapi, pemaknaan emoji tidak bersifat universal karena dipengaruhi oleh pengalaman digital, skema kognitif, dan lingkungan sosial penggunanya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perbedaan pemaknaan emoji antara mahasiswa dan orang tua serta mengidentifikasi faktor psikolinguistik yang menyebabkan ambiguitas dalam komunikasi antargenerasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang melibatkan 25 mahasiswa berusia 18–25 tahun dan 17 orang tua berusia di atas 40 tahun. Instrumen penelitian terdiri atas tujuh emoji yang berpotensi menimbulkan perbedaan tafsir. Data dianalisis secara tematik dengan mengidentifikasi pola pemaknaan, bentuk ambiguitas, dan faktor penyebabnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memaknai emoji secara konotatif dan kontekstual melalui budaya internet, sedangkan orang tua memaknainya secara literal berdasarkan bentuk visual. Implikasinya, literasi digital dan kesadaran metalinguistik diperlukan untuk mengurangi kesalahpahaman antargenerasi.
Copyrights © 2026