Penetapan kadar zat aktif merupakan salah satu tahapan penting dalam pengendalian mutu sediaan farmasi dan kosmetik untuk menjamin keamanan, kualitas, dan efektivitas produk. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar asam salisilat dalam sampel bedak menggunakan metode alkalimetri serta membandingkan hasilnya dengan persyaratan yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Metode yang digunakan adalah titrasi alkalimetri menggunakan larutan baku natrium hidroksida (NaOH) yang terlebih dahulu dibakukan dengan kalium biftalat (KHP), sedangkan titik akhir titrasi ditentukan menggunakan indikator fenolftalein. Sampel dilarutkan dalam etanol yang telah dinetralkan dan dititrasi hingga terjadi perubahan warna menjadi merah muda. Hasil pembakuan menunjukkan normalitas larutan NaOH sebesar 0,0816 N. Penetapan kadar asam salisilat pada sampel bedak menghasilkan kadar sebesar 3,067%, sehingga melebihi batas maksimum yang diizinkan BPOM untuk sediaan kosmetik, yaitu 2%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sampel belum memenuhi persyaratan keamanan. Perbedaan hasil dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti penetralan etanol yang kurang sempurna, kesalahan pembacaan buret, serta ketidaktepatan dalam menentukan titik akhir titrasi. Oleh karena itu, metode alkalimetri dapat digunakan untuk penetapan kadar asam salisilat, namun pelaksanaannya harus dilakukan secara teliti agar diperoleh hasil yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan
Copyrights © 2026